Cerita ini saya dengar langsung dari ibu saya tentang kenalan beliau sewaktu masih berada di jenjang SMA. Sebut saja Hasan, beliau adalah seorang siswa dari sebuah SMA yang bisa dikatakan tidak begitu terkenal di daerahnya. Semasa SMA, beliau bisa dikatakan pintar, bahkan sangat cerdas. Banyak hal-hal baru yang beliau buat saat masih SMA untuk membangun sekolahnya tersebut mulai dari alat-alat sederhana hingga suatu alat yang cukup canggih pada waktu itu. Hasan berasal dari sebuah keluarga tidak mampu yang membuat beliau harus belajar di SMA yang biasa-biasa dan tidak terkenal itu, padahal dengan potensi yang ada pada beliau seharusnya beliau bisa sekolah di tempat yang lebih baik di kota. Namun, begitulah takdir seorang Hasan. Beliau terlahir sebagai anak pertama dari delapan bersaudara. Tanggung jawab Hasan semakin berat saat ayahnya yang menjadi tulang punggung utama keluarganya meninggal dunia akibat suatu penyakit yang dideritanya. Lalu ibu beliau juga sudah tidak bisa bekerja lagi karena keadaan fisik yang begitu lemah. Dengan besar hati Hasan meninggalkan sekolahnya demi menjadi kepala keluarga yang baru. Beliau bekerja setiap hari untuk bisa membiayai kebutuhan keluarga serta membiayai sekolah adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Beliau rela berkorban demi mereka semua yang dicintainya.
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun dilaluinya tanpa lelah hingga bertahun-tahun. Kepalanya hanya diisi dengan kemauan untuk mencari nafkah hingga adik-adiknya telah lulus sekolah semua dan mendapatkan pekerjaan semua. Saat ini, dari tujuh orang adiknya, lima diantaranya telah lulus menjadi dokter dan dua sisanya menjadi insinyur. Pengorbanan besar yang beliau lakukan dulu, saat ini telah dibalas oleh Allah Yang Maha Adil dengan memberikan keluarga mereka rezeki dan nikmat yang begitu besar.

Cerita ini saya alami sendiri saat sedang menempuh pendidikan di tingkat SMA. Saya adalah seorang siswa dari sebuah madrasah aliyah yang cukup terkenal di Gorontalo. Prestasi saya di sekolah bisa dikatakan lumayan dengan didasarkan dari nilai-nilai yang diberikan pada saat pembagian hasil ujian. Suatu hari, di sekolah saya dibuka pendaftaran bagi siswa-siswi yang ingin ikut seleksi untuk mengikuti Olimpiade Sains. Saat itu saya sangat berminat untuk mengikuti pelajaran matematika. Selain karena saya senang dengan pelajarannya, juga karena saya senang dengan guru yang mengajar di mata pelajaran tersebut.
Tahap pertama dimulai, kami semua diseleksi dengan soal-soal sederhana yang membutuhkan ketelitian dan nalar yang cukup tinggi. Kami diberikan waktu dua jam untuk mengerjakan dua puluh soal. Setelah selesai tes, kami semua berkumpul untuk membahas soal yang diberikan saat seleksi itu. Hasilnya, jawaban saya ada beberapa yang benar dan beberapa juga berbeda, tetapi saya tetap yakin dengan hasil kerja saya. Pada saat pengumuman ternyata nama saya muncul, meski hanya urutan lima. Kemudian tahap demi tahap kami lalui hingga tahap akhir dimana tinggal tiga orang yang akan diutus dari lima orang yang tersisa. Setelah pengumuman di tempel, ternyata nama saya tidak ada. Saya merasa kecewa dan terpukul karena tidak bisa lolos seleksi di tingkat sekolah.
Dengan dorongan dan dukungan dari keluarga serta teman-teman, akhirnya saya bangkit lagi dan bertekad bahwa saya harus lolos seleksi sekolah hingga provinsi tahun depan. Tekad yang kuat ini membuat saya senantiasa latihan soal-soal di luar jam sekolah. Setiap waktu luang saya selalu gunakan untuk belajar, hingga waktu liburan yang sangat langka bagi kami yang sekolah disana menjadi korban demi mengikuti event yang hanya diadakan setahun sekali itu.
Tahap pertama dimulai dan saya bisa lolos dengan mudah sebab pengalaman-pengalaman sebelumnya. Lalu tahap kedua pun berakhir dengan mulus hingga masuk ke tahap akhir. Sebelum saya mengerjakan soal di tahap ketiga tersebut, saya minta doa semua orang disekelilingku untuk keberhasilanku dan hasilnya, saya lulus tingkat sekolah dengan mendapatkan peringkat pertama lalu berlanjut di tingkat kabupaten dengan hasil yang sama. Setelah tingkat provinsi berakhir, akhirnya saya bisa menikmati liburan di rumah dengan tenang. Lama sudah saya tidak mendengar kabar tentang hasil seleksi provinsi, teman saya mengirimkan pesan bahwa saya lulus tingkat provinsi dan akan bertanding di tingkat nasional yang saat itu diselenggarakan di Jakarta. Saya sangat senang mendengar kabar tersebut, lalu saya sujud syukur dan segera memberitahukan kabar tersebut kepada orang tua saya. Memang Maha Adil Allah yang memberikan kemudahan bagi orang yang bersungguh-sungguh.